TAK ada pesta kembang api. Tak ada pula riuh rendah. Suasana nyaris senyap di sebuah saung di kaki Gunung Pabeasan, Kp. Pamucatan, Desa/Kec. Padalarang, Kab. Bandung Barat pada malam terakhir tahun 2007. Denting-denting kecapi madenda yang sendu berpilin erat dengan gesekan biola nan menyayat di tangan dua musisi renta, Udung dan Encu. Dalam malam yang mendung, Gunung Pabeasan hanya menampakkan dinding putihnya dengan wajah nan muram.
Di bawah pendaran sinar petromaks, 30-an orang berkumpul, duduk melingkar di saung itu. Malam belum begitu larut ketika kemenyan dibakar. Asep Sunarya, Kepala Desa Padalarang, mulai ngarajah. Doa selamat dipanjatkan. Setelah itu, dia menyampaikan "orasi budaya".
"Hampir dua abad silam, (Gubernur Jenderal Herman Willem) Daendels membuat projek spektakuler. Membangun jalan sepanjang 1.000 km dari Anyer (Banten) ke Panarukan (Situbondo Jatim). Sepotong jalan itu terbentang di hadapan kita, di bawah Gunung Pabeasan ini," kata Asep.
Asep mengajak hadirin untuk sejenak merenung, nyoreang ka tukang, ke masa dua abad silam itu. Dalam projek kerja paksa itu, ada keringat, darah, dan air mata. "Jangan lihat tekanan penjajahnya, tapi ingatlah perjuangan orang-orang tua kita. Kini, kita bisa melintas di jalan itu dengan nyaman," tuturnya, lalu berseloroh, "Ada aki-aki yang kena bisul, disuruh bekerja. Kemudian, ia meninggal dunia".
Seusai orasi, suasana mencair melalui obrolan-obrolan. Kadang serius, kadang pula penuh dengan bojegan (candaan). Setting cerita didominasi masa lalu, ratusan abad ke belakang. Berdasarkan ilmu geologi, Gunung Pabeasan adalah salah satu dataran yang --kemungkinan besar-- dihuni nenek moyang orang Sunda. "Hanya saja, hingga kini, kami belum menemukan indikasi arkeologis di Gunung Pabeasan. Perlu penelitian lebih lanjut," ujar ahli peneliti muda dari Balai Arkeologi Bandung
(BAB), Lutfi Yondri, dalam kesempatan terpisah.
Menurut Lutfi, Gunung Pabeasan seusia dengan Pasir Pawon, tempat Gua Pawon berada, di Desa Gunungmasigit, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat. "Kemungkinan besar, Gua Pawon tak sendirian. Ada gua-gua lain yang juga menjadi tempat hunian. Salah satunya, mungkin, ya di Gunung Pabeasan dan Gunung Hawu ('tetangga' Gunung Pabeasan,-red. )," tuturnya.
Obrolan seputar itulah yang mendominasi "perayaan" menjelang tahun baru di kaki Gunung Pabeasan. Betapa hingga kini Gunung Pabeasan masih diselimuti misteri. "Penelitian perlu dilakukan. Sementara Gunung Pabeasan dan Gunung Hawu dalam keadaan terancam oleh penambangan batu.
Bisakah kita mempertahankan Gunung Pabeasan?" kata Wawan Djatnika, salah seorang peserta riungan.
Usep (35), putra asli Gunung Pabeasan menuturkan, dia pernah menyelusuri gua di Gunung Hawu. Saat itu, dia masih menekuni profesinya sebagai pencari sarang walet. "Selama tiga hari tiga malam
kami berjalan. Ternyata, tembusnya di dekat Karangpanganten (di selatan jalan raya Padalarang, tak jauh dari Pasir Pawon,-red.) . Apakah dulunya nyambung ke Pasir Pawon, saya enggak tahu pasti. Hanya
saja, sekarang kondisinya sudah tertimbun longsoran tanah," katanya.
Nana Munajat Dahlan, peserta lainnya, juga punya cerita. Di salah satu dinding Gunung Pabeasan, ada ceruk untuk pemakaman. Uniknya, pintu makam itu hingga kini dalam keadaan digembok. "Kami tak tahu makam siapa itu," ujarnya.
**ADA tekad yang muncul dalam riungan tersebut. Sejumlah agenda disusun sebagai upaya untuk melestarikan Gunung Pabeasan dan Gunung Hawu. Mereka berencana membuat agenda rutin kebudayaan yang digelar di kaki Gunung Pabeasan. Di samping itu, mereka juga bakal menekan
pemerintah agar kedua gunung itu terbebas dari eksploitasi.
Malam semakin merayap menuju larut. Denting-denting kecapi dan alunan suara biola kembali diperdengarkan. Kali ini, Nana Munajat yang lulusan STSI Bandung menyuguhkan tarian. Akan tetapi, satu jam sebelum tahun 2007 berganti, hujan deras datang. Riungan itu bubar. Tanpa sorak-sorai. Tanpa elu-elu. Suasana didominasi oleh derasnya tumpahan air ke atap saung. (Hazmirullah/ "PR")***
Di bawah pendaran sinar petromaks, 30-an orang berkumpul, duduk melingkar di saung itu. Malam belum begitu larut ketika kemenyan dibakar. Asep Sunarya, Kepala Desa Padalarang, mulai ngarajah. Doa selamat dipanjatkan. Setelah itu, dia menyampaikan "orasi budaya".
"Hampir dua abad silam, (Gubernur Jenderal Herman Willem) Daendels membuat projek spektakuler. Membangun jalan sepanjang 1.000 km dari Anyer (Banten) ke Panarukan (Situbondo Jatim). Sepotong jalan itu terbentang di hadapan kita, di bawah Gunung Pabeasan ini," kata Asep.
Asep mengajak hadirin untuk sejenak merenung, nyoreang ka tukang, ke masa dua abad silam itu. Dalam projek kerja paksa itu, ada keringat, darah, dan air mata. "Jangan lihat tekanan penjajahnya, tapi ingatlah perjuangan orang-orang tua kita. Kini, kita bisa melintas di jalan itu dengan nyaman," tuturnya, lalu berseloroh, "Ada aki-aki yang kena bisul, disuruh bekerja. Kemudian, ia meninggal dunia".
Seusai orasi, suasana mencair melalui obrolan-obrolan. Kadang serius, kadang pula penuh dengan bojegan (candaan). Setting cerita didominasi masa lalu, ratusan abad ke belakang. Berdasarkan ilmu geologi, Gunung Pabeasan adalah salah satu dataran yang --kemungkinan besar-- dihuni nenek moyang orang Sunda. "Hanya saja, hingga kini, kami belum menemukan indikasi arkeologis di Gunung Pabeasan. Perlu penelitian lebih lanjut," ujar ahli peneliti muda dari Balai Arkeologi Bandung
(BAB), Lutfi Yondri, dalam kesempatan terpisah.
Menurut Lutfi, Gunung Pabeasan seusia dengan Pasir Pawon, tempat Gua Pawon berada, di Desa Gunungmasigit, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat. "Kemungkinan besar, Gua Pawon tak sendirian. Ada gua-gua lain yang juga menjadi tempat hunian. Salah satunya, mungkin, ya di Gunung Pabeasan dan Gunung Hawu ('tetangga' Gunung Pabeasan,-red. )," tuturnya.
Obrolan seputar itulah yang mendominasi "perayaan" menjelang tahun baru di kaki Gunung Pabeasan. Betapa hingga kini Gunung Pabeasan masih diselimuti misteri. "Penelitian perlu dilakukan. Sementara Gunung Pabeasan dan Gunung Hawu dalam keadaan terancam oleh penambangan batu.
Bisakah kita mempertahankan Gunung Pabeasan?" kata Wawan Djatnika, salah seorang peserta riungan.
Usep (35), putra asli Gunung Pabeasan menuturkan, dia pernah menyelusuri gua di Gunung Hawu. Saat itu, dia masih menekuni profesinya sebagai pencari sarang walet. "Selama tiga hari tiga malam
kami berjalan. Ternyata, tembusnya di dekat Karangpanganten (di selatan jalan raya Padalarang, tak jauh dari Pasir Pawon,-red.) . Apakah dulunya nyambung ke Pasir Pawon, saya enggak tahu pasti. Hanya
saja, sekarang kondisinya sudah tertimbun longsoran tanah," katanya.
Nana Munajat Dahlan, peserta lainnya, juga punya cerita. Di salah satu dinding Gunung Pabeasan, ada ceruk untuk pemakaman. Uniknya, pintu makam itu hingga kini dalam keadaan digembok. "Kami tak tahu makam siapa itu," ujarnya.
**ADA tekad yang muncul dalam riungan tersebut. Sejumlah agenda disusun sebagai upaya untuk melestarikan Gunung Pabeasan dan Gunung Hawu. Mereka berencana membuat agenda rutin kebudayaan yang digelar di kaki Gunung Pabeasan. Di samping itu, mereka juga bakal menekan
pemerintah agar kedua gunung itu terbebas dari eksploitasi.
Malam semakin merayap menuju larut. Denting-denting kecapi dan alunan suara biola kembali diperdengarkan. Kali ini, Nana Munajat yang lulusan STSI Bandung menyuguhkan tarian. Akan tetapi, satu jam sebelum tahun 2007 berganti, hujan deras datang. Riungan itu bubar. Tanpa sorak-sorai. Tanpa elu-elu. Suasana didominasi oleh derasnya tumpahan air ke atap saung. (Hazmirullah/ "PR")***
http://www.matabumi.com

0 comments:
Post a Comment