Wednesday, June 3, 2009

Vihara Sin Tek Bio, Vihara dari Perkebunan Chastelein

GANG Belakang Kongsi, begitu nama gang sempit di antara tembok bangunan baik pertokoan, rumah warga, rumah makan, dan klenteng. Gang ini cuma cukup buat orang jalan, atau kalau mau memaksakan diri motor bisa egois, mengambil lahan pejalan yang sudah mepet ke tembok atau pagar rumah orang.

Meski kumuh, di dalam gang ini berdiri sebuah klenteng atau vihara bersejarah, yang seringkali terlupakan. Pintu masuk vihara berhadapan langsung dengan tembok gedung Plasa Metro Atom, Pasarbaru, sebuah pusat belanja yang dibangun pada 1980-an. Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) yang dibangun abad 17 ini kini dikungkung bangunan. Untuk menuju ke vihara ini orang harus melalui gang sempit, gelap, dan kotor. Gang itu sebetulnya celah antara Plasa Metro Atom dan toko jamu Nyonya Meneer yang sudah berdiri di situ sejak sebelum 1940.

Dalam penanda yang dibikin di tembok seberang vihara tertulis, Sin Tek Bio anno 1698 - Batavia. Dalam buku sejarah yang diterbitkan Yayasan Vihara Dharma Jaya dua tahun lalu tertulis, vihara ini semula disebut Het Kong Sie Huis Tek. Jika kini terletak di pusaran keramaian Pasar Baru, maka pada abad 17 vihara ini terletak di pedalaman atau sekitar 5 km dari tembok kota Batavia.

Diduga nama Het Kong Sie Huis Tek berubah menjadi Sin Tek Bio (Kelenteng Pasar Baru) sejak dibukanya Passer Baroe tahun 1821. Tahun 1982 berubah lagi menjadi Vihara Dharma Jaya. Di dalam vihara ini terdapat ratusan patung, sebagian dari abad ke 17.

Seperti biasa, data lengkap sejarah pendirian vihara tak mudah didapat. Maka diperkirakan vihara ini bermula dari kelenteng kecil karena banyaknya petani Tionghoa yang tinggal di perkebunan Chastelein. Dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, Adolf Heuken menyebutkan, di Paviljoensveld - nama pertama sebelum menjadi Lapangan Banteng - petani Tionghoa mulai menanam sayuran, tebu, di ladang-ladang basah dekat Ciliwung. Paviljoensveld milik Anthonij Paviljoen ini berada tak jauh dari Passer Baroe. Setelah Paviljoen, pemilik selanjutnya adalah Cornelis Chastelein.

Ukuran kelenteng ini pun tak sebesar Kim Tek Ie (Jin de Yuan) dan kelenteng di Ancol. Untuk melihat ukuran dan atap vihara Sin Tek Bio lama, pengunjung bisa melihat ke bagian belakang, di sana ada Mi Aboen. Atap restoran itu dihiasi naga, ukurannya pun kecil. Semula bagian vihara yang jadi restoran Mi Aboen ini adalah bagian muka vihara (menghadap ke selatan) , kemudian pada 1812 dipindah ke belakang bangunan lama (menghadap ke utara dan Jalan Samanhudi).

Lantas kenapa tertulis anno 1698 padahal diyakini vihara ini memang ada sejak tahun tersebut. Rupanya setelah perabotan vihara didata secara turun menurun dari pengurus vihara atau warga Tionghoa yang tinggal di sekitarnya sejak abad 18, akhirnya diyakini Sin Tek Bio dibangun tahun 1698. Berdasarkan buku daftar penyumbang pembangunan kelenteng ini, yang tertulis dalam bahasa Tionghoa, tercantum angka tahun 1698 yang diduga sebagai tahun berdirinya kelenteng ini.

Sayangnya, karena terpencil dan terimpit bangunan, maka kelenteng ini seperti terlupakan khususnya oleh pihak berwenang. Kelenteng ini semakin kepepet bangunan baru yang tak berkonsep. Kelenteng ini hanya satu contoh karena toko-toko kuno dengan bangunan tua juga makin tergusur bangunan baru. Malah di seberang klenteng ini kini sedang dibangun Pasar Baru Square padahal di seberangnya sudah ada Plasa Metro Atom.

Seberapa penting keberadaan segudang plasa, mal, square di Pasar Baru yang berumur ratusan tahun ini untuk keperluan wisata budaya? Bukankah lebih baik mempertahankan toko lama dengan bangunan tua dan segala folklor yang pernah hidup di bekas persawahan dan kebun Paviljoen-Chastelein ini untuk menghidupkan kawasan bersejarah di sini - yang sudah dijajah PKL.

Inilah Curhat yang Membawa Prita ke Penjara

Prita Mulyasari, ibu dua anak, mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Banten, gara-gara curhatnya melalui surat elektronik yang menyebar di internet mengenai layanan RS Omni Internasional Alam Sutera.

Kisah Prita bermula saat ia dirawat di unit gawat darurat RS Omni Internasional pada 7 Agustus 2008. Selama perawatan, Prita tidak puas dengan layanan yang diberikan. Ketidakpuasan itu dituliskannya dalam sebuah surat elektronik dan menyebar secara berantai dari milis ke milis.

Surat elektronik itu membuat Omni berang. Pihak rumah sakit beranggapan Prita telah mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut beserta sejumlah dokter mereka. Seperti apakah surat Prita yang membawanya ke penjara?

Berikut ini adalah surat prita.


RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF

Prita Mulyasari - suaraPembaca


Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. Terutama anak-anak, lansia, dan bayi. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien, penjualan obat, dan suntikan.

Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20.30 WIB. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International, yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus.

Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.000. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27.000.

dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Tapi, saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. Lalu referensi dr I adalah dr H. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah.

Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa. Keesokan pagi, dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam. Bukan 27.000 tapi 181.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?). Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien.

Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal.

Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat, dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul.

Tangan kiri saya mulai membengkak. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Namun, dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja.

Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Tapi, dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali.

Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja.

Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan.

Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Namun, janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya, suntikan, hasil lab awal yang 27.000 menjadi revisi 181.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.

dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan.

Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. Namun, saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. Tapi, saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif.

Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181.000 bukan 27.000.

Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181.000. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.

Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis.

Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya.

Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27.000 bukan 181.000. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181.000 saya masih bisa rawat jalan.

Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. Tidak menanggapi komplain dengan baik. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Saya minta duduk bareng antara lab, Manajemen, dan dr H. Namun, tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.

Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista.

Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.

Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.

Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya. Namun, sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah.

Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang.

Terutama dr G dan Og, tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer, tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.

Saya bilang ke dr G, akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami.

Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan dilakukan revisi 181.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni.

Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap.

Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik.

Saya dirugikan secara kesehatan. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Tapi, RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini.

Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). Namun, saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain.

Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan.

Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing. Benar. Tapi, apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan.

Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga, anak, orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tolong sampaikan ke dr G, dr H, dr M, dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini.


Salam,
Prita Mulyasari
Alam Sutera

http://megapolitan.kompas.com

Mega-Prabowo Akan Tanda Tangani Komitmen Politik dengan Buruh

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri dan Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto akan menandatangani komitmen politik dengan para buruh. Komitmen politik itu terdiri dari dua poin dan akan dilakukan pada 6 Juni di Rengasdengklok, Jawa Barat.

Dua poin komitmen politik tersebut berkaitan dengan aspirasi para buruh atas kebijakan outsourcing dan permintaan menjadikan Hari Buruh 1 Mei sebagai hari libur nasional. Komitmen tersebut dibuat dalam kapasitas keduanya sebagai pimpinan partai, bukan sebagai pasangan capres dan cawapres.

"Sebagai partai politik kan kami menyerap aspirasi yang mereka keluhkan. Buruh ketika bertemu menyampaikan aspirasi bahwa sistem outsourcing agar ditinjau ulang dan hari buruh 1 Mei dijadikan libur nasional. Atas aspirasi itu, Ibu Mega dan Pak Prabowo sepakat dan akan dibuat komitmen politik," kata Sekretaris II Tim Kampanye Mega-Prabowo, Hasto Kristianto, di Sekretariat Tim Kampanye Nasional, Jakarta Pusat, Rabu (3/6) petang.

Tanggal 6 Juni mendatang, para pasangan capres belum boleh melakukan kampanye terbuka. "Itu kan kami buat dalam kapasitas sebagai pimpinan partai. Kami juga akan melaporkannya ke KPU dan Bawaslu," jelas Hasto.

Sebelum ke Rengasdengklok, pasangan Mega-Prabowo akan melakukan ziarah ke makam Proklamator Bung Hatta di TPU Tanah Kusir, setelah meminta izin kepada pihak keluarga. Rencananya, komitmen politik akan dihadiri ribuan buruh dari berbagai wilayah.

"Kabarnya, jumlahnya melebihi massa yang hadir di Bantar Gebang (deklarasi Mega-Prabowo)," kata Hasto.


http://nasional.kompas.com

Teka-Teki Nikah Dini Manohara

Nama Manohara Odelia Pinot tiba-tiba melejit di blantika pemberitaan nasional. Nyaris menyamai berita utama kampanye pilpres 2009. Hampir seluruh media massa memberitakan model cantik nan belia menantu Sultan Kelantan Malaysia ini. Para pemimpin negeri ini pun ikut berkomentar tentang kasus rumah tangga ini. Mulai dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, wapres Jusuf Kalla, Kedubes RI di Malaysia, mabes Polri, sampai DPR RI pun ikut berbicara dan kabarnya akan meminta penjelasan resmi dari Kedubes RI di Malaysia.

Ada apa dengan Manohara yang kini memiliki sebutan lengkap Cik Puan Temenggong Manohara?
Berita besar ini bermula dari hubungan suami istri yang tidak harmonis, antara Manohara (17) dengan suaminya putra ketiga Raja Kelantan, yang disebut-sebut sebagai putra mahkota Kelantan, Tengku Temenggong Muhammad Fakhry (31). Mereka menikah di Kelantan 6 Agustus 2008 lalu. Ketika menikah, Manohara kelahiran 28 Februari 1992 ini masih berumur 16 tahun. Mano adalah buah perkawinan pasangan Daisy Fajarina - keturunan bangsawan Bugis - dengan pria asal Amerika Serikat, George Mamz. Oleh karena itulah, Mano kemudian memiliki 2 kewarganegaraan, Amerika Serikat dan WNI. Sejak kecil Mano pun tinggal di luar negeri mengikuti ibunya yang menikah lagi dengan pria Perancis, Reiner Pinot Noack.

Mano bertemu Fakhry dalam suatu undangan pesta di Jakarta, di rumah wakil PM Malaysia, Najib Razak, tahun 2006.Selama ini informasi tentang kasus Mano paling banyak berasal dari keluarga besar Daisy sang ibunda. Termasuk juga berbagai cerita tentang bagaimana mula hubungan asmara Mano-Fakhry hingga ke pelaminan yang berakhir dengan kasus keributan keluarga mereka. Informasi pengimbang tentang kasus Mano-Fakhry versi Kelantan memang tak mudah didapat. Menurut kerabat dekat keluarga Sultan Kelantan, Mohd Soberi Safii, seperti dilansir beberapa media massa di Kuala Lumpur (28/4), Raja tidak mau memperpanjang konflik dan membuka aib besannya sendiri. Selain itu, keluarga besar Raja Kelantan juga tak ingin ikut campur masalah internal rumah tangga putra mahkotanya. "Jika diikuti maka akan terbongkar semua latar belakang Ibu Daisy. Ini sikap Raja Kelantan!" kata Soberi seperti dikutip pers Indonesia di Kuala Lumpur.

Cerita sedih model cantik Manohara yang pernah menjadi model terpilih 100 pesona Indonesia di Herper's Bazaar Magazine ini berawal dari sang ibunda, Daisy. Dalam suatu jumpa pers di kantor Komnas HAM (23/4), Daisy menceritakan kisah "penculikan" dan penganiayaan putrinya yang dilakukan oleh Fakhry. Dalam pengaduannya, Daisy mengungkapkan adanya KDRT yang dilakukan berulang-ulang, berupa penganiayaan fisik dan mental, pemaksaan seksual, dan pelarangan komunikasi antara Manohara dengan ibu serta keluarganya.

Semuanya masih berupa cerita (satu arah) yang belum disertai dengan bukti-bukti konkrit. Manohara yang kini telah kembali berada di Indonesia dan bersatu dengan keluarga besarnya belum juga melakukan visum. Bukti-bukti inilah yang sempat pula ditanyakan oleh kaum aktivis perempuan yang jatuh iba menyimak kasus Manohara. Di antaranya Ratna Sarumpaet. "Saya sebetulnya senang, Mano pulang segar bugar. Padahal katanya, sebulan ini, Mano setiap hari disundut setrum. Dua bulan Ibu Daisy saya kejar-kejar untuk membuktikan, agar tidak jadi fitnah. Jadi, Daisy harus bertanggung jawab kepada bangsa Indonesia, atas apa yang telah diucapkannya selama dua bulan ini," seperti dikutip Warta Kota (1/6).

Benar atau tidak cerita Daisy Fajarina tentang nasib yang dialami Manohara? Kita tunggu bukti-bukti konkrit hasil visum tim medis. Kebenaran cerita harus pula dilengkapi dengan data dan fakta agar tidak menjadi fitnah belaka.(* dari berbagai sumber)

http://berita.liputan6.com

Kasus Prita, Konflik Air Mata dan Mata Air

Seorang pengguna internet, Prita Mulyasari, ditahan karena dituduh mencemarkan nama baik Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang. Dia dijerat dengan UU Informasi dan Transaksi Elektronik karena mengirim e-mail tentang keberatannya atas diagnosis rumah sakit tersebut.

Menanggapi hal ini, Wakil Ketua Dewan Pers Sabam Leo Batubara mengatakan, peristiwa yang menimpa Prita merupakan bentuk perang antara air mata dan mata air.

"Air mata itu simbol bagi kaum miskin, masyarakat biasa, dan mata air itu cerminan pihak yang bermodal. Penegak hukum jangan cepat-cepat menuruti apa kata para pemegang modal. Buktinya, Prita langsung ditahan. Oleh karena itu, saya menyebutnya perang antara air mata dan mata air," ujar Leo kepada wartawan di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Rabu (3/6).

Menurut dia, penegak hukum seharusnya lebih bijaksana ketika berurusan dengan rakyat kecil.

Pada Rabu (3/6) ini, Dewan Pers menjenguk Prita di LP Wanita Tangerang untuk memberikan dukungan. Di hadapan Kalapas LP Wanita Tangerang, Prita, dan keluarga, Dewan Pers meminta agar penegak hukum membebaskan Prita.

"Kami bebaskan Ibu Prita. Kami juga memohon agar tidak menggunakan UU ITE. UU ini akan membungkam rakyat. Mereka tidak akan berani lagi mengkritik dan bersuara," tuturnya.

Leo juga mengatakan agar para calon presiden dan wakil presiden tidak melupakan pokok lain dalam kampanyenya. Selama ini, lanjut Leo, mereka hanya mendahulukan kesejahteraan rakyat. "Namun, keadilan untuk mereka justru dilupakan," cetusnya.


http://megapolitan.kompas.com

Sponsor = Klik di Photo Ini

Sponsor = Klik di Photo Ini
Nurmansah Oomunk Komank

Blog Archive

Tentang saya

My photo
Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia
Dipanggil Noormanshah (formal), Oomunk (in-formal), Komank (non- formal). Aktifitas sehari-hari bekerja sebagai relawan pendidikan, di Sekolah Dasar Jakarta Timur. Memiliki minat pada kegiatan alam bebas dan seni (musik), sebagai sebuah instrumen untuk memahami filosofi kehidupan dan sampai sekarang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

kotak pesan


ShoutMix chat widget