Tuesday, June 30, 2009

Perempuan Cantik Lebih Sukses Dalam Karir (Betulkah?)


Ini adalah peraturan tidak tertulis; perempuan berwajah cantik dan berpenampilan menarik cenderung lebih sukses dibandingkan mereka yang berpenampilan standar, dengan prestasi kerja setara. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian oleh Daniel Hamermesh dan Jeff Biddle yang diterbitkan dalam Jurnal Ekonomi Tenaga Kerja.

Perempuan berpenampilan menarik memperoleh gaji lebih tinggi, juga lebih mudah mendapatkan promosi.

Sepintas, 'peraturan' ini terlihat diskriminatif. Bukankah pekerjaan seharusnya dinilai dari prestasi, bukan penampilan fisik?

Memang, tidak semua orang setuju dengan aturan itu. Penampilan menarik tidak ada artinya bila tak diimbangi dengan prestasi kerja yang bagus. Dengan kata lain, meski penampilan rupawan dapat membawa seseorang kepada banyak pintu kesempatan, tapi tak akan mampu menembus pintu itu tanpa modal prestasi yang cukup.

Seseorang bisa tampak sangat mempesona, tapi dalam lima menit pertama kesan tersebut dapat hancur jika dia bertingkah tidak profesional. Meskipun penampilan adalah hal pertama yang dilihat dari seseorang, tapi penampilan tidak selalu dapat memenangkan kompetensi, interpersonal skill, dan faktor lainnya. Penampilan tidak akan membantu Anda menjadi sukses dalam bidang lain dalam hidup.

Meski demikian, terlepas dari apapun, Anda memang perlu memperhatikan penampilan luar. Penampilan menarik akan meningkatkan rasa percaya diri. Untuk itu, pastikan sikap tubuh Anda sempurna; jaga punggung tetap tegak, angkat kepala, dan buat kontak mata dengan lawan bicara.


http://suaramerdeka.com

Krisis Global Menyebabkan Kaum Wanita Ikut Menanggung Beban Ekonomi Keluarga



Sungguh tepat pepatah yang menyebutkan kasih ibu sepanjang zaman. Pepatah itu tak hanya berlaku di Indonesia. Baru-baru ini, sebuah jajak pendapat yang dilakukan Grey Group di Asia mengungkap, krisis ekonomi yang melanda dunia telah membuat para ibu menjadi pekerja-pekerja di luar rumah guna menopang keuangan keluarga.

Meski demikian, umumnya orang Asia percaya kaum hawa bakal mampu bekerja untuk keluarga dengan sukses. Bahkan, menurut jajak pendapat tersebut, mereka mendukung para ibu untuk bekerja di luar rumah guna mendukung keuangan keluarga, terlebih saat krisis. Tak aneh, jika 81 persen ibu mengatakan, saat ini mereka menjadi lebih sibuk. Alhasil, mereka tidak dapat memberikan waktu yang cukup bagi anak-anaknya.

Namun fenomena ini bukan tanpa risiko. Ibu-ibu yang bekerja akan cenderung memperturutkan apa pun kemauan si anak untuk menutupi kesalahan karena kurang memperhatikannya. Kasus ini banyak ditemui di negara-negara Asia yang maju seperti, Taiwan, Singapur dan Hongkong.

Hanya saja, fenomena ini tidak terlalu tampak di negara berkembang seperti Bangladesh, Indonesia dan Vietnam. Dampak lainnya, ibu-ibu yang bekerja akan "memaksa" kakek dan nenek turun tangan mengasuh cucu-cucu mereka. Ini dapat memicu konflik dalam keluarga karena kakek dan nenek biasanya bersikap lebih disiplin ketimbang bapak dan ibu.

Sekalipun demikian, hampir dua per tiga orang Asia tetap mendukung para ibu untuk bekerja di luar rumah. Bahkan jika para ibu diminta untuk tetap bekerja sekaligus memperhatikan anak-anak, responden percaya mereka tetap dapat menjalankan kedua peran dengan baik. Meski di tengah krisis? Luar Biasa.


http://gayahidup.liputan6.com

Sponsor = Klik di Photo Ini

Sponsor = Klik di Photo Ini
Nurmansah Oomunk Komank

Blog Archive

Tentang saya

My photo
Jakarta Timur, DKI Jakarta, Indonesia
Dipanggil Noormanshah (formal), Oomunk (in-formal), Komank (non- formal). Aktifitas sehari-hari bekerja sebagai relawan pendidikan, di Sekolah Dasar Jakarta Timur. Memiliki minat pada kegiatan alam bebas dan seni (musik), sebagai sebuah instrumen untuk memahami filosofi kehidupan dan sampai sekarang aktif dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

kotak pesan


ShoutMix chat widget