GANG Belakang Kongsi, begitu nama gang sempit di antara tembok bangunan baik pertokoan, rumah warga, rumah makan, dan klenteng. Gang ini cuma cukup buat orang jalan, atau kalau mau memaksakan diri motor bisa egois, mengambil lahan pejalan yang sudah mepet ke tembok atau pagar rumah orang.
Meski kumuh, di dalam gang ini berdiri sebuah klenteng atau vihara bersejarah, yang seringkali terlupakan. Pintu masuk vihara berhadapan langsung dengan tembok gedung Plasa Metro Atom, Pasarbaru, sebuah pusat belanja yang dibangun pada 1980-an. Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) yang dibangun abad 17 ini kini dikungkung bangunan. Untuk menuju ke vihara ini orang harus melalui gang sempit, gelap, dan kotor. Gang itu sebetulnya celah antara Plasa Metro Atom dan toko jamu Nyonya Meneer yang sudah berdiri di situ sejak sebelum 1940.
Dalam penanda yang dibikin di tembok seberang vihara tertulis, Sin Tek Bio anno 1698 - Batavia. Dalam buku sejarah yang diterbitkan Yayasan Vihara Dharma Jaya dua tahun lalu tertulis, vihara ini semula disebut Het Kong Sie Huis Tek. Jika kini terletak di pusaran keramaian Pasar Baru, maka pada abad 17 vihara ini terletak di pedalaman atau sekitar 5 km dari tembok kota Batavia.
Diduga nama Het Kong Sie Huis Tek berubah menjadi Sin Tek Bio (Kelenteng Pasar Baru) sejak dibukanya Passer Baroe tahun 1821. Tahun 1982 berubah lagi menjadi Vihara Dharma Jaya. Di dalam vihara ini terdapat ratusan patung, sebagian dari abad ke 17.
Seperti biasa, data lengkap sejarah pendirian vihara tak mudah didapat. Maka diperkirakan vihara ini bermula dari kelenteng kecil karena banyaknya petani Tionghoa yang tinggal di perkebunan Chastelein. Dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, Adolf Heuken menyebutkan, di Paviljoensveld - nama pertama sebelum menjadi Lapangan Banteng - petani Tionghoa mulai menanam sayuran, tebu, di ladang-ladang basah dekat Ciliwung. Paviljoensveld milik Anthonij Paviljoen ini berada tak jauh dari Passer Baroe. Setelah Paviljoen, pemilik selanjutnya adalah Cornelis Chastelein.
Ukuran kelenteng ini pun tak sebesar Kim Tek Ie (Jin de Yuan) dan kelenteng di Ancol. Untuk melihat ukuran dan atap vihara Sin Tek Bio lama, pengunjung bisa melihat ke bagian belakang, di sana ada Mi Aboen. Atap restoran itu dihiasi naga, ukurannya pun kecil. Semula bagian vihara yang jadi restoran Mi Aboen ini adalah bagian muka vihara (menghadap ke selatan) , kemudian pada 1812 dipindah ke belakang bangunan lama (menghadap ke utara dan Jalan Samanhudi).
Lantas kenapa tertulis anno 1698 padahal diyakini vihara ini memang ada sejak tahun tersebut. Rupanya setelah perabotan vihara didata secara turun menurun dari pengurus vihara atau warga Tionghoa yang tinggal di sekitarnya sejak abad 18, akhirnya diyakini Sin Tek Bio dibangun tahun 1698. Berdasarkan buku daftar penyumbang pembangunan kelenteng ini, yang tertulis dalam bahasa Tionghoa, tercantum angka tahun 1698 yang diduga sebagai tahun berdirinya kelenteng ini.
Sayangnya, karena terpencil dan terimpit bangunan, maka kelenteng ini seperti terlupakan khususnya oleh pihak berwenang. Kelenteng ini semakin kepepet bangunan baru yang tak berkonsep. Kelenteng ini hanya satu contoh karena toko-toko kuno dengan bangunan tua juga makin tergusur bangunan baru. Malah di seberang klenteng ini kini sedang dibangun Pasar Baru Square padahal di seberangnya sudah ada Plasa Metro Atom.
Seberapa penting keberadaan segudang plasa, mal, square di Pasar Baru yang berumur ratusan tahun ini untuk keperluan wisata budaya? Bukankah lebih baik mempertahankan toko lama dengan bangunan tua dan segala folklor yang pernah hidup di bekas persawahan dan kebun Paviljoen-Chastelein ini untuk menghidupkan kawasan bersejarah di sini - yang sudah dijajah PKL.
Meski kumuh, di dalam gang ini berdiri sebuah klenteng atau vihara bersejarah, yang seringkali terlupakan. Pintu masuk vihara berhadapan langsung dengan tembok gedung Plasa Metro Atom, Pasarbaru, sebuah pusat belanja yang dibangun pada 1980-an. Vihara Dharma Jaya (Sin Tek Bio) yang dibangun abad 17 ini kini dikungkung bangunan. Untuk menuju ke vihara ini orang harus melalui gang sempit, gelap, dan kotor. Gang itu sebetulnya celah antara Plasa Metro Atom dan toko jamu Nyonya Meneer yang sudah berdiri di situ sejak sebelum 1940.
Dalam penanda yang dibikin di tembok seberang vihara tertulis, Sin Tek Bio anno 1698 - Batavia. Dalam buku sejarah yang diterbitkan Yayasan Vihara Dharma Jaya dua tahun lalu tertulis, vihara ini semula disebut Het Kong Sie Huis Tek. Jika kini terletak di pusaran keramaian Pasar Baru, maka pada abad 17 vihara ini terletak di pedalaman atau sekitar 5 km dari tembok kota Batavia.
Diduga nama Het Kong Sie Huis Tek berubah menjadi Sin Tek Bio (Kelenteng Pasar Baru) sejak dibukanya Passer Baroe tahun 1821. Tahun 1982 berubah lagi menjadi Vihara Dharma Jaya. Di dalam vihara ini terdapat ratusan patung, sebagian dari abad ke 17.
Seperti biasa, data lengkap sejarah pendirian vihara tak mudah didapat. Maka diperkirakan vihara ini bermula dari kelenteng kecil karena banyaknya petani Tionghoa yang tinggal di perkebunan Chastelein. Dalam buku Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta, Adolf Heuken menyebutkan, di Paviljoensveld - nama pertama sebelum menjadi Lapangan Banteng - petani Tionghoa mulai menanam sayuran, tebu, di ladang-ladang basah dekat Ciliwung. Paviljoensveld milik Anthonij Paviljoen ini berada tak jauh dari Passer Baroe. Setelah Paviljoen, pemilik selanjutnya adalah Cornelis Chastelein.
Ukuran kelenteng ini pun tak sebesar Kim Tek Ie (Jin de Yuan) dan kelenteng di Ancol. Untuk melihat ukuran dan atap vihara Sin Tek Bio lama, pengunjung bisa melihat ke bagian belakang, di sana ada Mi Aboen. Atap restoran itu dihiasi naga, ukurannya pun kecil. Semula bagian vihara yang jadi restoran Mi Aboen ini adalah bagian muka vihara (menghadap ke selatan) , kemudian pada 1812 dipindah ke belakang bangunan lama (menghadap ke utara dan Jalan Samanhudi).
Lantas kenapa tertulis anno 1698 padahal diyakini vihara ini memang ada sejak tahun tersebut. Rupanya setelah perabotan vihara didata secara turun menurun dari pengurus vihara atau warga Tionghoa yang tinggal di sekitarnya sejak abad 18, akhirnya diyakini Sin Tek Bio dibangun tahun 1698. Berdasarkan buku daftar penyumbang pembangunan kelenteng ini, yang tertulis dalam bahasa Tionghoa, tercantum angka tahun 1698 yang diduga sebagai tahun berdirinya kelenteng ini.
Sayangnya, karena terpencil dan terimpit bangunan, maka kelenteng ini seperti terlupakan khususnya oleh pihak berwenang. Kelenteng ini semakin kepepet bangunan baru yang tak berkonsep. Kelenteng ini hanya satu contoh karena toko-toko kuno dengan bangunan tua juga makin tergusur bangunan baru. Malah di seberang klenteng ini kini sedang dibangun Pasar Baru Square padahal di seberangnya sudah ada Plasa Metro Atom.
Seberapa penting keberadaan segudang plasa, mal, square di Pasar Baru yang berumur ratusan tahun ini untuk keperluan wisata budaya? Bukankah lebih baik mempertahankan toko lama dengan bangunan tua dan segala folklor yang pernah hidup di bekas persawahan dan kebun Paviljoen-Chastelein ini untuk menghidupkan kawasan bersejarah di sini - yang sudah dijajah PKL.

0 comments:
Post a Comment